PENDAHULUAN
Filsafat dan ilmu
adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis
karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya
perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Kelahiran filsafat di Yunani
menunjukkan pola pemikiran bangsa Yunani dari pandangan mitologi akhirnya
lenyap dan pada gilirannya rasiolah yang dominan, dengan filsafat pola pikir
yang selalu tergantung pada dewa diubah menjadi pola pikir yang tergantung pada
rasio, kejadianalam seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai kegiatan dewa
yang tidur, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan
dan bumi berada pada garis yang sejajar sehingga bayang-bayang bulan menimpa
sebagian permukaan bumi dari penelitian alam semesta dan manusia. Muncullah
ilmu-ilmu seperti astronomi, kosmologi, fisika, kimia, biologi, psikolgi,
sosiologi dan sebagainya.
Filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang merefleksi radikal dan integral mengenai hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Filsafat ilmu merupakan penerusan dalam pengembangan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebab pengetahuan ilmiah tidak lain adalah a higher level dalam perangkat pengetahuan manusia dalam arti umum sebagaimana kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam perkembangannya pada tahap sekarang ini filsafat ilmu juga mengarahkan perhatiannya pada masalah strategi pengembangan ilmu, disamping menyangkut etik, neuristik bahkan juga sampai dimensi kebudayaan untuk mengungkap tidak sengaja kegunaan ilmu, tetapi juga arti serta maknanya bagi kehidupan manusia yang dalam era teknologi ini tetap mendambakan kehidupan yang manusiawi.
Filsafat ilmu merupakan cabang filsafat yang merefleksi radikal dan integral mengenai hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Filsafat ilmu merupakan penerusan dalam pengembangan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebab pengetahuan ilmiah tidak lain adalah a higher level dalam perangkat pengetahuan manusia dalam arti umum sebagaimana kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam perkembangannya pada tahap sekarang ini filsafat ilmu juga mengarahkan perhatiannya pada masalah strategi pengembangan ilmu, disamping menyangkut etik, neuristik bahkan juga sampai dimensi kebudayaan untuk mengungkap tidak sengaja kegunaan ilmu, tetapi juga arti serta maknanya bagi kehidupan manusia yang dalam era teknologi ini tetap mendambakan kehidupan yang manusiawi.
ONTOLOGI
Tokoh yang membuat
istilah ontologi populer adalah Christian Wolff (1679 – 1714). Istilah ontologi
berasal dari bahasa Yunani yaitu : ta onta berarti “yang berada” dan logi
berarti “ilmu pengetahuan, ajara”. Dengan demikian ontologi adalah ilmu
pengetahuan atau ajaran tentang yang berada. Didalam ontologi terdapat beberapa aliran yang penting
yaitu: dualisme yang memandang alam menjadi ini terdiri dari dua macam hakikat
sebagai sumbernya. Sedangkan monisme (materialisme) memandang bahwa sumber yang
asal itu hanya tunggal. Idealisme memandang bahwa segala sesuatu serba cita
atau serba roh. Sedangkan faham yang mengingkari kesanggupan manusia untuk
mengetahui hakikat seperti yang dikehendaki oleh ilmu metafisika disebut
aguosticisme.
Faham serba dua
(dualisme) telah lama muncul dikalangan filsuf. Pemikiran serba dua (dualisme)
dapat dilihat dalam pemikiran Aristoteles yang disebutnya sebagai materi dan
bentuk. Didalam dunia inilah kita menghadapi pengertian-pengertiantentang “yang
ada sebagai potensi” dan “yang ada secara terwujud’. Pengertian materi
(materialisme) disini tidak sama dengan pengertian kita sekarang tentang
materi. Dasar terakhir segala perubahan dari hal-hal yang berdiri sendiri dan
unsur bersama yang terdapat di dalam segala sesuatu yang menjadi dan binasa
menurut Aristoteles, adalah “materi pertama”. Dari materi pertama inilah timbul
sebagai penyempurnaannya bentuk-bentuk segala sesuatu yang bermacam-macam itu.
Pengertian materi dan bentuk, asas gerak dan tujuan, dipakai untuk
mengembalikan segala sesuatu kepada dasar-dasar yang terakhir. Bentuk “ada”
atau asas “ada” (eidos, morfe) telah kita temui pada Plato, yaitu idea. Akan tetapi
apa yang diajarkan Aristoteles tentang eidos berbeda dengan apa yang diajarkan
Plato. Bagi eidos atau ide adalah pola segala sesuatu yang tempatnya di luar
dunia ini, yang berdiri sendiri, lepas daripada benda yang konkret yang adalah
penerapannya. Bagi Aristoteles eidos adalah asas yang imanen atau yang berada
di dalam benda yang konkret, yang secara sempurna menentukan jenis benda itu,
yang menjadikan benda yang konkret itu disebut demikian (disebut meja, kursi
dan lain-lain).
Materi
(hule) dalam arti mutlak adalah asas atau lapisan bawah yang paling akhir dan
umum. Materi adalah kenyataan yang belum terwujud, yang belum ditentukan akan
tetapi yang memiliki potensi, bakat untuk menjadi terwujud atau menjadi
ditentukan oleh bentuk. Pada ada kemungkinan untuk menjadi nyata, karena
kekuatan yang membentuknya.
Paham serba dua (analisme) juga dikenal dalam pemikiran Rene Descartes yang menamakan kedua hakikat tersebut dengan istilah dunia kesadaran (rohani) dan dunia ruang/kebendaan. Hakikat atau subtansi kebendaaan adalah kekuasaan dan subtansi jiwa adalah pemikiran. Ajaran Rene Descartes yang analistik dapat dilihat dalam pemikirannya tentang manusia.
Paham serba dua (analisme) juga dikenal dalam pemikiran Rene Descartes yang menamakan kedua hakikat tersebut dengan istilah dunia kesadaran (rohani) dan dunia ruang/kebendaan. Hakikat atau subtansi kebendaaan adalah kekuasaan dan subtansi jiwa adalah pemikiran. Ajaran Rene Descartes yang analistik dapat dilihat dalam pemikirannya tentang manusia.
Paham serba dua (analisme) berbeda dengan paham monisme yang memandang bahwa hakikat yang asal dari seluruh realitas hanyalah satu. Menurut paham ini tidak mungkin dua. Apabila monisme memandang bahwa hakikat yang asal dari realitas ini adalah materi maka paham ini disebut materialisme. Sedangkan monisme yang memandang bahwa hakikat yang asal dari realitas ini adalah rohani maka paham ini disebut spiritualisme atau idealisme.
Lawan dari materialisme adalah idealisme atau spiritualisme. Menurut idealisme semuanya serba cita, sedangkan menurut spiritualisme semuanya serba roh. Aliran ini menganggap bahwa hakikatnya kenyataan yang beraneka ragam ini semua berasal dari roh (sukma) atau yang sejenis dengan itu. Pokoknya sesuatu yang tidak berbentuk dan yang tidak menempati ruang. Menurut anggapan aliran ini materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari pada penjelmaan rohani.
Alasan yang terpenting
dari aliran ini adalah: manusia menganggap roh atau sukma itu lebih berharga,
lebih tinggi nilainya dari materi bagi kehidupan manusia. Roh itu dianggap
sebagai hakikat yang sebenarnya, sehingga materi hanyalah badannya, bayangan
atau penjelmaan saja.
Kalau dibandingkan dengan aliran materialisme ternyata bahwa kalau aliran materialisme berusaha menerangkan hakikat dunia dengan melihat badannya maka aliran idealisme berusaha menerangkan hakikat yang menggerakkan sendiri sesudah mati. Idealisme tumbuh dan berkembang sejak Plato. Kemudian pada masa Aufklarung mendapat tempat tersendiri yang di dukung oleg Dercartes dan Spinoza. Perkembangan idealisme pada zaman Aufklarung tampak lebih kompleks. Idealisme pada zaman ini banyak diwarnai oleh pemikiran ilmiah dan Ilahiyah, terutama pemikiran gereja. Hal ini tampak jelas dalam pemikiran Spinoza (1632 – 1677). Ditinjau dari keseluruhan isi ajarannya, aliran ini memang banyak menarik perhatian ahli pikir. Daya tarik tersebut menyangkut beberapa hal, antara lain:
Kalau dibandingkan dengan aliran materialisme ternyata bahwa kalau aliran materialisme berusaha menerangkan hakikat dunia dengan melihat badannya maka aliran idealisme berusaha menerangkan hakikat yang menggerakkan sendiri sesudah mati. Idealisme tumbuh dan berkembang sejak Plato. Kemudian pada masa Aufklarung mendapat tempat tersendiri yang di dukung oleg Dercartes dan Spinoza. Perkembangan idealisme pada zaman Aufklarung tampak lebih kompleks. Idealisme pada zaman ini banyak diwarnai oleh pemikiran ilmiah dan Ilahiyah, terutama pemikiran gereja. Hal ini tampak jelas dalam pemikiran Spinoza (1632 – 1677). Ditinjau dari keseluruhan isi ajarannya, aliran ini memang banyak menarik perhatian ahli pikir. Daya tarik tersebut menyangkut beberapa hal, antara lain:
1.
Aliran ini dapat memenuhi hasrat-hasrat yang tinggi dari roh
kemanusiaan. Manusia tidak merasa asing seakan-akan telah kembali pada roh
rumah sendiri yang wajar.
2.
Seluruh kenyataan ini menjadi sangat berarti, sebab dia
dianggap sebagai perwujudan pada alam cita-cita.
3.
Manusia merasa seperti dipanggil oleh seruan yang nyaring
untuk mewujudkan cita-citanya, karena itu sudah seharusnya dia dianggap pulang
pada alam cita-cita itu sendiri.
4.
Idealisme menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih gembira
dan memuaskan, sehingga meskipun manusia fana dalam kemanusiaannya juga merasa
seakan-akan dia turut sebagai pencipta juga.
5.
Lebih menarik lagi
idealisme itu karena orang lain dapat merasakan kepuasaan beragama dengan
anggapan:
a.
Kita dapat memikirkan Tuhan itu sebagai idea (alam cita-cita)
dan yang tertinggi (ajaran Plato).
b.
Memikirkan Tuhan sebagai keseluruhan dari idea-idea
(Windelbnad).
c.
Memikirkan Tuhan sebagai kekuasaan yang menghubungkan idea
dengan kenyataan (Kant).
d.
Memikirkan idea-idea sebagai alam akhirat yang kekal dan asli
yang diciptakan Tuhan lebih utama dari dunia kebendaan yang fana (tasawuf
Islam).
Sepanjang sejarah
pemikiran filsafat, idealisme memiliki beberapa macam. Masing-masing idealisme
tersebut memiliki arti tersendiri bagi pendukungnya. Dalam hal ini ada 4
idealisme yaitu idealisme subyektif, idealisme obyektif, idealisme
rasionalistik dan idealismestis. Paham
yang selalu timbul dalam seajrah filsafat, yaitu Aguostilisme dan Skepticisme.
Paham ini selalu menyangkal keberhasilan hal-hal yang menjadi tujuan
metafisika. Corak paham Egnotecisme dapat dilihat dalam pemikiran Martin
Heidegger dan Karl Jaspera.
TULISAN
INI BERLANJUT DI PERTEMUAN SELANJUTNYA

0 komentar:
Post a Comment